Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Desember 2011

Manajemen Amarah

Seorang sahabat pernah bercerita kalau dia sangat mengeluhkan hubungannya dengan isterinya. Mulai bangun pagi, jika dia telat bangun maka isterinya langsung pasang muka tidak suka, cemberut hingga berangkat kerja. Sahabat itu bilang: “Saya tiap pagi sarapan kemarahan”.

“Pemarah itu lucu”, lanjut cerita teman itu.

Gimana tidak, ketika seseorang marah ia berusaha menunjuk orang lain yang seharusnya bertanggung jawab. Akan tetapi seperti seseorang yang berdiri di depan cermin, pemarah itu sedang menunjuk dirinya sendiri. Dengan penuh emosi dia menyerang cermin gambarnya sendiri yang jelek dan dianggap buruk. Lucunya pemarah itu tidak tahu bahwa yang diumpat, dicerca adalah dirinya sendiri. Jadi seorang yang sedang marah itu tidak sadar bahwa dia sedang asyik bergulat dengan diri sendiri.

Pemarah kadang-kadang tersadar setelah masuk rumah sakit terkena tekanan darah tinggi, stroke, kanker dan lain-lain.

Menurut sejumlah terapi kepribadian, emosi negatif termasuk amarah harus diekspresikan, namun itu akan sangat membahayakan diri dan orang lain. Konon emosi marah akan hilang jika di pukulkan pada bantal atau mengguyur kepala berulang-ulang dengan air, tapi seperti tanaman yang disirami dan diberi pupuk, emosi negatif (amarah) ternyata semakin membesar dan membakar.

Jalan lain untuk mengobati marah adalah dengan menyadari, mengenali, dan menjadikannya tamu yang terhormat.

Seperti tamu yang datang di rumah kita, jika kita temui dan kita ajak obrol dengan baik dan sopan, maka tamunya menjadi ramah dan sopan juga, akhirnya terjadilah hubungan harmonis yang menjadi cahaya di ruang jiwa, layaknya kabel listrik yang memadukan positif dan negatif menjadi cahaya lampu yang terang berkilau, itulah kebanyakan sahabat pilih yang sudah bosan dengan cara sebelumnya yang menendang bantal, membanting piring dll. Hasilnya amarah menjadi cinta yang berbelas kasih, penyakit menjadi tersembuhkan karena ada hati yang rendah hati, musuh menjadi teman yang sangat menghormati, isteri menjadi tersenyum dan tersenyum.

Pandangan yang semula orang lain yang harusnya bertanggung jawab akhirnya berangsur-angsur bisa disadari dan diambilalih oleh diri sendiri, dan dinyalakan menjadi cahaya kehidupan.

Saat tersadar bahwa amarah adalah emosi yang berbahaya, maka teman saya tidak pernah membalas saat isterinya marah. Dia mulai mengerti bahwa amarah muncul karena dia kekurangan perhatian, cinta dan kurang bahagia. Oleh karena itu dia merangkul amarah isterinya dan menjadikannya tempat untuk berwelas asih. Jadi jika setiap kali bertemu dengan seorang yang sedang marah jadikan momen itu tempat untuk berbelas kasih karena ada yang sedang menderita kekurangan.

Jika sekarang Anda sudah tersadar bahwa marah berarti memarahi diri sendiri, memusuhi diri sendiri, dan menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda sedang miskin, sedang menderita, lantas apakah Anda akan marah lagi pada anak buah Anda, apakah Anda akan memarahi Anak anda yang nakal, apakah Anda masih ingin berucap kata-kata kasar dengan segudang nama-nama binatang?....hehehehe....Anda mau menyebut diri Anda sendiri dengan nama-nama binatang....benarkah?...

Jika Anda sampai saat ini masih dikendalikan oleh amarah, berarti Anda sedang memusuhi diri sendiri , entah Anda marah terhadap koruptor, politisi, atau pemerintah, marah terhadap situasi cuaca panas, hujan, terhadap kata-kata orang lain, orang tua Anda, sahabat Anda, atasan Anda, dll....apakah Anda mau menghabiskan seluruh sisa usia Anda untuk terus menyakiti diri Anda sendiri?....

Mudah untuk memeriksanya, coba raba dada sebelah kiri Anda, dengarkan detak jantung Anda, dia akan mengatakan apakah Anda sedang penuh amarah atau sedang tersenyum penuh maaf, jika detaknya normal tenang dan penuh kedamaian maka Anda tidak dipengaruhi amarah, jika detak itu terlalu cepat, keras, cepat-cepatlah memaafkan atas penyebab emosi yang muncul tersebut (baca amarah).

Menarik sekiranya artikel ini kita tutup dengan pernyataan dari Wayne W Dyer yang saya ambil dari statusnya di facebook;

“When you judge another, you do not define them, you define yourself”.

Kamis, 10 November 2011

Murnikan Diri Murnikan Hidup

"Memurnikan diri dengan kejujuran, ketulusan dan keikhlasan menjadikan diri seperti air yang jernih dan berkilaukan cahaya".


Di kala hujan seperti saat ini, saya teringat masa 20 tahun yang lalu saat masih di kampung. Di belakang rumah di tengah hujan yang lebat, ada seekor ayam betina sedang berteduh di bawah pohon yang rindang dengan anak-ananknya, sementara di tempat lain yang terbuka ada bebek yang menceburkan diri di genangan air, ia nampak sangat bahagia dengan air hujan yang turun. Terlihat ayam bahagia apa adanya di bawah pohon, sementara bebek juga bahagia apa adanya di genangan air.

Hikmah yang tersirat dalam sketsa ayam dan bebek tadi membisikkan sebuah makna bahwa kebahagiaan akibat perbedaan dan perbandingan itu hanya ilusi dan realitanya tidak nyata. Jika memang ada bahagia karena perbedaan dari perbandingan, maka itu hanya buatan pikiran sendiri yang sebentar kemudian hilang dan menguap berganti kesedihan yang datang. Ini mirip dengan kata seorang guru yang menganalogikan, “jika di ruang tamu sedang bahagia maka di kamar tidur kesedihan sedang menunggu”.

Dalam keseharian, jika ada tetangga yang membeli kendaraan baru, tiba-tiba kita merasa tidak senang, tidak nyaman, di dalam hati kita meratap, “Awas ya ntar aku beli yang lebih wah lagi dari pada mobilmu itu!”.

Jika ada tetangga anaknya bisa masuk sekolah favorit kita merasa tersakiti, iri, dll.

Seringkali kita tidak bisa melihat segala sesuatu apa adanya, kita selalu hidup dalam batin yang terus menilai dan membandingkan. Tidak ada ketulusan dan keikhlasan dalam melihat segala sesuatunya.

Melanjutkan cerita di kampung tadi, dulu di tahun 80-an, seingat saya banyak terdengar tiap pagi orang bernyanyi di kamar mandi seperti burung yang bersiul bersahutan, suasananya lepas, bebas, nampak asli, jujur, dan tulus.

Sekarang di pagi hari masih ada suara kicau burung meski sudah tidak seramai dulu, yang berbeda saat ini warga kampung lebih suka sarapan gosip di TV yang berisi celaan, makian, dan umpatan.

Sudah jarang orang bersiul lepas menikmati pagi sekalipun hanya di kamar mandi.

Orang dulu menjunjung tinggi kejujuran, sekarang yang ada malah ketakutan berbuat jujur. Takut tidak lulus, takut dicela, takut tidak mendapat proyek, takut miskin. Intinya orang jujur takut tidak mendapatkan kesenangan dunia. Ada ungkapan jawa, “Jamane jaman edan, nek ra melu edan ra keduman”. Ironis, guru kepalsuan hidup subur di dalam batin yang terus membandingkan diri dengan orang lainnya, yang pejabat saling berlomba mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, sementara para politisi berlomba menarik konstituen dengan berbagai cara.

Teringat di bangku sekolah dulu, para guru ekonomi selalu menekankan ketakutan pada anak didiknya; bahwa jumlah penduduk semakin meningkat sementara persediaan akan kebutuhan semakin menipis. Akan tetapi kenyataan, saat hujan air tidak bertambah, saat kemarau air juga tidak berkurang. Para pengagum logika tidak akan mempercayai pernyataan seperti ini. Namun inilah realitanya, dari mulai sekolah menengah dulu dua puluh tahun lalu hingga saat ini, pengamatan para ahli ekonomi itu tidak pernah terbukti. Bahkan dengan 6 millyar penduduk bumi saat ini, alam tetap kaya dan tidak pernah berbohong dalam memberi nafkah pada penduduknya.

Mari kita belajar dari alam, alam tidak mencuri untuk memberi kita rezeki, alam juga tidak pernah korupsi untuk menumbuhkan padi, jagung dll, alam juga tidak kehabisan air saat menurunkan hujan.

Apa rahasia alam sehingga bisa hidup berkelimpahan dan tidak pernah kekurangan; kejujuran, keihklasan, dan ketulusan itulah yang dilakukan oleh alam semesta. Akankah kita masih ingin berguru pada pikiran yang penuh dengan egois atau pada hidup yang telah menunjukkan bukti dan realitas pada kita selama ini?. Jika kita masih ingin hidup penuh rekayasa, kita masih ingin dikedalikan pikiran, jika kita bisa hidup apa adanya dan seperti alam sebagai guru kita selama ini, bukankah hanya bahagia dan bahagia yang kita dapati seperti manusia- manusia yang menjadi guru agung buktikan selama ini.

Alam semesta selalu berbelas kasih kepada siapapun, itulah cermin dari keikhlasan, kejujuran, dan ketulusan.

Kebanyakan dari kita tidak memperhatikan bahwa ketidakseimbangan dalam berkata, berpikir dan merasa menjadikan tubuh tidak memiliki keseimbangan. Jika selama ini kita mendapatkan informasi bahwa penyakit disebabkan oleh makanan tertentu, nampaknya perlu dilihat lebih jauh bahwa ketidakseimbangan batin dan pikiran adalah sumber penyakit yang sering tidak kita lihat. Pikiran tidak terkendali mengakibatkan batin yang gelisah, dipenuhi prasangka negatif.

Seorang teman pernah mengatakan, inti meditasi yang di katakan oleh para guru sebenarnya ada dalam keikhlasan, kejujuran dan ketulusan yaitu serasinya merasa, berpikir dan bertindak atau berucap. Terkadang dalam hidup yang penuh persaingan dan pergulatan, kita sulit mempraktekkannya. Ikhlas ketika menerima kesenangan dan hadiah pasti mudah dilakukan, akan tapi ikhlas dalam kesedihan dan penderitaan? Jujur saat kaya saja sulit, bagaimana jika jujur saat kita miskin, tentu ini lebih sulit lagi.

Seruling yang ditiup terbuat dari bambu yang di haluskan oleh kejujuran, dilobangi oleh keihklasan dan di tiup dengan ketulusan akan menghasilkan nada-nada jiwa yang mengalun jernih hening dan damai. Seperti air yang sangat jernih dan bening berkilau saat terkena sinar matahari, seperti langit biru yang cerah tanpa awan yang menutupi, mungkin itulah diri yang dihiasi oleh kejujuran, keikhlasan dan ketulusan.

Selasa, 01 November 2011

Berlayar bersama Kehidupan


Saya teringat ketika melakukan perjalanan menuju sebuah telaga di kota Magetan. Jalannya naik turun, banyak tikungan tajam bertepi jurang.

Mirip dengan analogi perjalanan tadi, hidup juga di warnai dengan naik dan turun. Ada saatnya harus berjalan pelan-pelan karena sedang berpapasan dengan kendaraan besar, ada saatnya kita meluncur turun yakni ketika mengalami situasi tanpa mengeluarkan tenaga yang berlebih, saat naik kita harus menekan pedal gas mobil untuk mendapatkan tenaga agar bisa sampai di atas.

Dalam sebuah percakapan di angkringan Jogja, seorang kawan bertanya; “Apa yang bisa membuat hidup kita berjalan mulus tanpa hambatan?”

Hidup yang terasa tidak mulus atau banyak hambatan dikarenakan kita tidak harmonis dengan kehidupan, kita tidak berlayar bersama hidup itu sendiri.

Coba kita bayangkan, saat mengendarai mobil lalu bertemu tikungan, tetapi kita “ngeyel”melaju dengan kecepatan tinggi ,apa bisa berkendara dnga gaya seperti itu? Bisa, tapi selamat? Belum tentu. Kita bisa terjatuh, menabrak pembatas jalan , lalu akan terguling.

Kita ingin cepat-cepat kaya, cepat-cepat berhasil, cepat-cepat terkenal dll, tapi karena kita menolak menyetujui prosedur yang di berikan oleh hidup, maka muncullah hambatan dan masalah. Hidup akhirnya dipenuhi dengan perjuangan yang tiada habis yang penyebabnya karena kita tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan kehidupan.

Meminjam pernyataan Stuart Wilde dalam bukunya yang menyegarkan The Whispering Winds of Change; “Jangan pernah tergesa-gesa. Berjalanlah perlahan-lahan, berbicaralah yang jelas. Jangan pernah emosional dan jangan biarkan orang memanipulasimu....”, sangat dalam, itulah kesan terpancar saat membaca pernyataan Stuart Wilde tersebut. Bagaimana tidak, dalam hidup yang menuntut kita serba cepat dan di penuhi persaingan, kita harus berjalan pelan-pelan dan diminta menikmati hidup. Tapi itulah ironi kehidupan.

Saat kita penuh dengan ketergesaan, terburu-buru, seakan-akan hidup semakin meminta kita untuk terus berlari dan berlari. segala sesuatunya akan penuh kekurangan serta kesulitan. Namun saat kita jalan melambat dan menikmati hidup, ternyata hidup juga seakan-akan ikut melambat, segala sesuatunya terpenuhi dengan mudah dan indah.

Sungguh indah bisa berlayar bersama hidup, kita seperti penumpang kapal yang sangat besar nan mewah mirip Titanic, sementara kehidupan adalah nahkoda sekaligus kapalnya. Sementara kita sedang naik kapal, kita juga menikmati pemandangan laut yang luas, indah dan agung , di iringi alunan musik yang lembut dan mengalun. Indah indah dan indah yang selalu bergumam di hati setiap saat perjalanan ini.

Seorang sahabat bisa merasakan betapa indahnya dan penuh bahagia saat berlayar bersama kehidupan, saat dia membantu mencuci piring isterinya , bekerja menyebarkan brosur sampai memasang spanduk. Dia tersenyum menikmati, seperti analogi perjalanan tadi, di saat jalan turun kita tidak perlu mengeluarkan tenaga berlebih, itulah harmoni kehidupan yang jauh dari beban, keluh kesah, dan kekhawatiran.

Dalam suatu sesi konsultasi di Terapi Qolbu, seorang pengacara yang memiliki kehidupan mapan berkata “Sungguh indah bekerja tanpa ada perasaan tertahan, dan melawan. Seperti menyatu dengan diri sendiri yaitu hidup. Itulah yang saya lakukan di setiap hari”. sejuk sejuk dan dingin saat mendengarnya.

Mengutip pernyataan dari Kahlil Gibran yang termashur; "If you cannot work with love but only with distaste, it is better that you should leave your work". berlayar bersama kehidupan yang terasa hanya sejuk, indah dan indah karena memang yang terpancar kesekeliling hanyalah Cinta dan Cinta.

Jumat, 14 Oktober 2011

Resensi Buku a New Revolution of Success

A NEW REVOLUTION OF SUCCESS
PENULIS : ALI WARINGIN
HARGA : Rp. 50.000 (termasuk ongkos kirim)
UKURAN : 11, 5 X 16,5 CM
TEBAL : 117 HAL
KATEGORI : NONFIKSI/ PENGEMBANGAN DIRI DAN INSPIRATIONAL
ISBN : 979-1243-08-4
SOFTCOVER



"Ketika kita memulai segala sesuatu dan melakukannya dengan tersenyum, maka sebenarnya kita sedang menarik kelimpahan menuju hidup kita, maka tersenyumlah…"
Kebahagiaan, kekayaan, suka cita dan kemudahan dalam segala hal terus menjadi impian setiap orang. Kabar baiknya, ternyata kita tidak perlu bersusah payah untuk mewujudkan impian-impian itu.

Jika saat ini anda merasa  belum bisa mengubah kondisi seperti yang diinginkan, terus merasa kekurangan, selalu diliputi kegagalan…. maka buku ini adalah jawabannya, kawan.
Bila selama ini ada anggapan bahwa kesuksesan merupakan hasil perjuangan keras yang tanpa henti, buku ini akan membalikkan persepsi itu. 

"Menjadi bahagia atau tidak adalah sebuah pilihan. Bahagia itu ada disini, di detik ini, ketika kita bersedia memperhatikan tanda-tanda semesta. Mensyukuri setiap desah nafas yang kita hembuskan, menikmati aroma pagi yang segar, bahkan mensyukuri nikmatnya berjalan dengan kedua kaki ketika banyak saudara kita di luar sana yang sedang terbaring sakit". 

Sebaliknya, ketika keinginan untuk ingin merasa lebih terus mengendalikan kita, selama itu pula kekurangan akan terus mengikuti.

Dengan bahasa yang sederhana buku ini akan menuntun pembaca yang ingin meninggalkan kegagalan dan kekurangan menuju  kelimpahan serta kebahagiaan hidup.

Anda dapat membagikan kebahagiaan dengan memberikan buku ini kepada saudara, teman atau lainnya, jadikan ini hadiah kelahiran Anda yang kedua yaitu kelahiran kelimpahan Anda. 


 Pemesanan buku Hubungi 0351 332 3326/ 081 808131333/ 087 858 241 227

Kamis, 13 Oktober 2011

Membersihkan Hati

Seorang teman pernah bercerita tentang sakitnya yang berkepanjangan, berobat kesana kemari tapi tak kunjung sembuh... rasa putus asa, depresi, marah, takut menghantuinya terus menerus... Lantas menyalahkan keadaan, menyalahkan Tuhan, mengutuki nasib.
Mungkin ada diantara kita yang pernah mengalami hal yang sama.
Kawan, yang salah sebenarnya bukanlah penyakit itu, akan tetapi cara kita memandang “sakit” itulah yang perlu diperbaiki. Sebab tanpa disadari, seringkali penyakit datang akibat cara berpikir kita yang negatif, sering marah, memendam kebencian, prasangka, rasa iri, dll.
“Ada segumpal daging yang jika baik segumpal daging itu, maka baiklah seluruh tubuhnya, namun jika segumpal daging itu buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ingat, bahwa segumpal daging itu adalah hati (qalbu).”
Maka jika saat ini kita belum bisa sembuh dari penyakit-penyakit berat selama bertahun-tahun, langkah sederhana yang harus dilakukan adalah mencoba untuk membersihkan qalbu kita. Ampuni segala kebencian dalam diri dan mari belajar menerima kehidupan luar biasa yang telah diberikan Tuhan.
“Ingat, untuk bisa sembuh, yang kita butuhkan hanyalah hati yang bersyukur”
Terapi Qolbu
Alamat : Jalan Wader no. 10  Madiun, Jawa Timur
Telp. 0351-3323326 / 081808131333
Buka pagi : 08.00-12.00; sore : 15.00-18.00
Terapis : Ali Waringin (konsultan, penulis, motivator)
Konsultasi Online, kunjungi Facebook : Ali Waringin