
Seorang sahabat pernah bercerita kalau dia sangat mengeluhkan hubungannya dengan isterinya. Mulai bangun pagi, jika dia telat bangun maka isterinya langsung pasang muka tidak suka, cemberut hingga berangkat kerja. Sahabat itu bilang: “Saya tiap pagi sarapan kemarahan”.
“Pemarah itu lucu”, lanjut cerita teman itu.
Gimana tidak, ketika seseorang marah ia berusaha menunjuk orang lain yang seharusnya bertanggung jawab. Akan tetapi seperti seseorang yang berdiri di depan cermin, pemarah itu sedang menunjuk dirinya sendiri. Dengan penuh emosi dia menyerang cermin gambarnya sendiri yang jelek dan dianggap buruk. Lucunya pemarah itu tidak tahu bahwa yang diumpat, dicerca adalah dirinya sendiri. Jadi seorang yang sedang marah itu tidak sadar bahwa dia sedang asyik bergulat dengan diri sendiri.
Pemarah kadang-kadang tersadar setelah masuk rumah sakit terkena tekanan darah tinggi, stroke, kanker dan lain-lain.
Menurut sejumlah terapi kepribadian, emosi negatif termasuk amarah harus diekspresikan, namun itu akan sangat membahayakan diri dan orang lain. Konon emosi marah akan hilang jika di pukulkan pada bantal atau mengguyur kepala berulang-ulang dengan air, tapi seperti tanaman yang disirami dan diberi pupuk, emosi negatif (amarah) ternyata semakin membesar dan membakar.
Jalan lain untuk mengobati marah adalah dengan menyadari, mengenali, dan menjadikannya tamu yang terhormat.
Seperti tamu yang datang di rumah kita, jika kita temui dan kita ajak obrol dengan baik dan sopan, maka tamunya menjadi ramah dan sopan juga, akhirnya terjadilah hubungan harmonis yang menjadi cahaya di ruang jiwa, layaknya kabel listrik yang memadukan positif dan negatif menjadi cahaya lampu yang terang berkilau, itulah kebanyakan sahabat pilih yang sudah bosan dengan cara sebelumnya yang menendang bantal, membanting piring dll. Hasilnya amarah menjadi cinta yang berbelas kasih, penyakit menjadi tersembuhkan karena ada hati yang rendah hati, musuh menjadi teman yang sangat menghormati, isteri menjadi tersenyum dan tersenyum.
Pandangan yang semula orang lain yang harusnya bertanggung jawab akhirnya berangsur-angsur bisa disadari dan diambilalih oleh diri sendiri, dan dinyalakan menjadi cahaya kehidupan.
Saat tersadar bahwa amarah adalah emosi yang berbahaya, maka teman saya tidak pernah membalas saat isterinya marah. Dia mulai mengerti bahwa amarah muncul karena dia kekurangan perhatian, cinta dan kurang bahagia. Oleh karena itu dia merangkul amarah isterinya dan menjadikannya tempat untuk berwelas asih. Jadi jika setiap kali bertemu dengan seorang yang sedang marah jadikan momen itu tempat untuk berbelas kasih karena ada yang sedang menderita kekurangan.
Jika sekarang Anda sudah tersadar bahwa marah berarti memarahi diri sendiri, memusuhi diri sendiri, dan menunjukkan kepada orang lain bahwa Anda sedang miskin, sedang menderita, lantas apakah Anda akan marah lagi pada anak buah Anda, apakah Anda akan memarahi Anak anda yang nakal, apakah Anda masih ingin berucap kata-kata kasar dengan segudang nama-nama binatang?....hehehehe....Anda mau menyebut diri Anda sendiri dengan nama-nama binatang....benarkah?...
Jika Anda sampai saat ini masih dikendalikan oleh amarah, berarti Anda sedang memusuhi diri sendiri , entah Anda marah terhadap koruptor, politisi, atau pemerintah, marah terhadap situasi cuaca panas, hujan, terhadap kata-kata orang lain, orang tua Anda, sahabat Anda, atasan Anda, dll....apakah Anda mau menghabiskan seluruh sisa usia Anda untuk terus menyakiti diri Anda sendiri?....
Mudah untuk memeriksanya, coba raba dada sebelah kiri Anda, dengarkan detak jantung Anda, dia akan mengatakan apakah Anda sedang penuh amarah atau sedang tersenyum penuh maaf, jika detaknya normal tenang dan penuh kedamaian maka Anda tidak dipengaruhi amarah, jika detak itu terlalu cepat, keras, cepat-cepatlah memaafkan atas penyebab emosi yang muncul tersebut (baca amarah).
Menarik sekiranya artikel ini kita tutup dengan pernyataan dari Wayne W Dyer yang saya ambil dari statusnya di facebook;
“When you judge another, you do not define them, you define yourself”.
