Kamis, 26 Juli 2012


“Melampaui keserakahan diri”

"Kita selalu mengira mendapatkan keinginan itu merupakan kebahagiaan yang sesungguhnya".


Beberapa hari yang lalu kita di kejutkan oleh peristiwa meninggalnya seorang artis anak dari aktor pemain Rambo Sylvester Stallone yakni Sage Stallone (36th) yang terkenal saat main film Rocky bersama ayahnya, tewas di duga over dosis (www.jpnn.com, 14 Juli 2012). Beberapa bulan lalu lagi-lagi publik dikejutkan dengan tewasnya seorang diva dunia dalam kamar mandi salah satu hotel. Belakangan publik baru mengetahui bahwa sang diva ternyata telah lama addicted terhadap narkoba dan minuman keras.

Lalu dari dalam negeri setiap hari ada saja kabar negatif tentang para pengawal birokrasi yang berurusan dengan hukum. Total 173 kepala daerah  sedang menghadapi sidang sebagai saksi, tersangka atau terdakwa dalam kasus-kasus korupsi (Kompas, 17 April 2012).

Itu hanyalah sepenggal contoh dari kisah-kisah “tragis” anak manusia dalam bingkai yang berbeda, meski mereka sama- sama memiliki latar belakang kondisi finansial yang hampir di atas rata-rata penduduk Indonesia. Dari sini kemudian muncul pertanyaan, Apa yang membuat mereka tidak bisa bahagia dengan kekayaan yang berlimpah? Apa yang menyebabkan para kepala daerah itu mau berurusan dengan hukum kalau nominal pendapatannya sudah lebih dari masyarakat umum ? Lalu kegelisahan macam apa yang menyebabkan seorang aktor dan produser dunia yang pundi-pundi kekayaannya segunung, harus mengakhiri hidupnya dengan tragis? Pun dengan sang diva yang tiada diragukan lagi prestasi serta kepopuleran di masa jayanya, “apa yang membuatnya tersungkur dalam dunia obat-obatan terlarang dan minuman keras? Apakah justru kepopuleran itu sendiri penyebabnya, sesuatu yang diburu oleh banyak orang??” ... benar-benar paradoks.   

Jika mau jujur, bisikan hasrat dari dalam tiap jiwa adalah ingin memiliki apa yang dipunyai orang lain, betul tidak?  Kita berangan seandainya kita bisa mempunyai apa yang mereka punya, maka pastilah bahagia sentosa hidup kita. Kita terpesona akan dunia dan  meyakini bahwa memiliki kekayaan dan materi berlimpah merupakan sumber kebahagiaan hakiki.

Ego kita sebagai manusia seringkali bertutur, kita ingin menggenggam siang , tapi tidak menginginkan malam. Sementara faktanya siang dan malam silih berganti secara seimbang sesuai kaidah rotasi bumi. Analoginya kita selalu ingin bahagia tanpa mau menderita, kemudian demi menggapai bahagia itu kita rela melakukan segala macam cara. Padahal postulat hidup jelas menegaskan nasib itu ibarat roda, berotasi mengitari pusat kehidupan. Ada siang, ada malam. Ada bahagia, ada menderita.


Belum tua sudah pelupa


Persoalan mendasarnya sekarang adalah ingin hidup terus bahagia tanpa mau menderita. Falsafah keakuan seperti ini sudah pasti menentang kehidupan itu sendiri, di mana hidup mengenal ketidakkekekalan,  ada saatnya awan putih datang, ada waktunya ia pergi. Kita tak bisa terus menginginkannya ada di langit.


Ketika tiba waktunya bunga layu kemudian jatuh dari tangkainya tetapi kita menginginkannya untuk tetap bersemi, bukankah hal ini juga merupakan penyakit lupa (akan ketidakkekekalan segala sesuatu) yang telah lama menjangkiti hati kita?


Pertanyaan lain yang sering terlupakan  adalah setelah impian yang di kejar terpenuhi, apakah keinginan kita sudah habis? Tidak ada lagi ? Tentu sebagai manusia, kita pasti akan menjawab masih ada, dan yang mengejutkan keinginan itu justru cenderung bertambah besar. Setelah bisa membeli sepeda, ingin membeli motor, setelah itu terpenuhi muncul keinginan memiliki mobil, muncul lagi keinginan menaklukkan pasar, belum puas lagi, lantas ingin terjun menjadi penguasa, dst.


Kita selalu mengira mendapatkan keinginan itu merupakan kebahagiaan yang sesungguhnya, setelah mendapatkan ternyata bukan, kita mencarinya lagi dengan keinginan yang baru namun lagi lagi ternyata bukan kebahagiaan yang sesungguhnya yang di dapat.


Saat kita melihat dengan mata telanjang matahari bergerak dari timur ke barat dan tenggelam, belakangan tersadar setelah mengagumi terbitnya mentari kesana kemari ternyata matahari tidak bergerak kemana-mana.
Ini seperti mata pancing yang tertancap pada mulut ikan, siapa saja yang melekatkan kebahagiaan pada ha-hal di luar(materi, nama tenar, jabatan dll) dia sulit melepaskan diri. Marah, sakit hati, iri dengki adalah ekspresi dari kecanduan kemelekatan pada hal-hal di luar diri. Bak seekor kucing yang mencuri ikan asin saat tuan rumahnya tidak memberinya makan seperti yang biasa di berikannya, seperti itulah kecanduan kemelakatan kebahagiaan pada hal-hal di luar.

Kesadaran dari dalam


Melihat tumpukan persoalan dan masalah akibat kelupaan kita, kinilah saatnya kita mulai menumbuhkan kesadaran betapa berbahayanya melawan hukum kehidupan dengan terus meletakkan keinginan di atas segalanya yang berupaya kehidupan harus mengikuti keinginan dan banyak keinginan, bukankah kini saatnya kita mulai harus memindahkan alamat kebahagiaan yang bermula dari luar ke dalam, dari memimpikan enaknya menjadi pejabat dirubah menjadi betapa enaknya melayani masyarakat, dari memimpikan untuk dipuji karena kaya saatnya kini menumbuhkan perasaan menjadi diri sendiri.


Sadar bahwa kita bisa mengatur kebutuhan yang memang kita perlukan, kita tidak perlu lagi untuk melebihkan anggaran belanja sehingga tidak terjadi pemborosan dan bergaya yang tidak perlu.


Mengenai tumbuhnya kesadaran seperti ini tepat jika meminjam kata-kata indah dari Rumi : “Yesterday I was clever, so I wanted to changed the world. Now I am wise, so I am changing myself ”. Guru lain pernah mengatakan bahwa sebenarnya apa yang kita butuhkan hanyalah sedikit namun keinginan tidak memiliki batas yang membuat kebutuhan nampaknya sangat banyak dan rumit.


Sekarang kita sudah tahu apa yang menyebabkan pejabat berbohong kepada publik?, apa yang mendorong sampai 173 kepala daerah berurusan dengan hukum?, Maraknya korupsi dan banyak kejahatan lainnya tentu bentuk lain dari berbahayanya keinginan yang dijadikan tuan atau pemimpin.
Jika fokus pada hal-hal eksternal hanyalah bagaimana bisa mendapatkan dan banyak mengumpulkan piagam pujian, namun kebahagiaan di dalam dibangunkan dengan banyak melepaskan yang justru tidak semakin berkurang malahan semakin meningkat.


Diantara kita yang sudah mulai tersadar akan hal ini seringkali berucap: “ Seperti ada ruang yang sangat luas di dalam diri ketika memindahkan kebahagiaan dari luar ke dalam, memang di sana masih ada keinginan yang berbunyi namun sudah tidak bisa mengganggu lagi”.
Ibarat air yang mampu mencapai samudera dengan kelenturan dan kelembutan, kita hanya akan tersenyum diperjalanan ini sambil berbagi hingga sampai tujuan.


Seperti matahari yang terbit di pagi hari dan tenggelam di sore hari, kita yang sudah sadar dan melihat kebahagiaan di dalam (rasa cukup yang sudah di tumbuhkan) tidak mencari-cari matahari terbit di tempat yang jauh dan tinggi, karena saat terbit atau tenggelam di manapun sama indahnya.


48 komentar:

  1. terima kasih teman atas kunjungannya :)

    BalasHapus
  2. I do not understand this language, but I LOVE the picture!! Thank you for visiting my blog. Have a blessed day :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. you're welcome :) maybe next time i'll write in english

      Hapus
  3. Balasan
    1. terima kasih kawan kunjungannya

      Hapus
  4. sungguh postingan dengan tutur kata yang memikat, dan yang terakhir mengenai matahari ..di manapun berada..keindahannya tak pernah berubah, terbit atau tenggelam.. saya sangat suka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih ya kunjungannya...semoga bermanfaat.

      Hapus
    2. semoga ramadhan ini membawa barokah bagi kita semua, dan jadi orang yang bisa mengendalikan hawa nafsu...salam ramadhan :)

      Hapus
  5. banyak juga ya 173 kepala daerah yg tersangkut soal korupsi


    dalam artian nyata memang melihat sunrise dan sunset nggak usah jauh jauh, dari dekat juga bisa spt saya dan suami selalau ebrsepeda ke pinggir sungai dan memotret ratusan sunset di sana, bis atiap hari kalau cuaca memungkinkan puluhan fotonya ada di sini http://duniaely.wordpress.com/memburu-matahari/

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah aku lihat, keren foto2nya.

      Hapus
  6. Postingan ini sungguh menyadarkan kita semua bhw materi bukanlah segalanya utk mencapai kebahagian. Kebahagian itu ternyata terletak pada sikap kita untuk ikhlas menerima apa yg sdh digariskan Nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih gan...komentarnya bagus sekali.

      Hapus
  7. nice share, teringat dulu seorang sahabat ketika keinginannya sudah tercapai dia bertanya, terus apa lagi ? sebuah pertanyaan yang klise namun menunjukkan kedangkalan pikiran tentang arti sebuah pencapaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. membaca komentar agan Aulawi Ahmad saya juga teringat cerita orang yang paling kaya di dunia yang pernah ada yaitu John D rockefeller. saat usia tuanya menjelang meninggal ada yang bertanya, berapa lagi uang yang akan Anda kumpulkan?, dia menjawab: "sedikit lagi". betapa dia tidak pernah merasa cukup, dan memang realitanya keinginan tidak akan pernah merasa terpenuhi. terima kasih gan. :)

      Hapus
  8. Astaghfirulloh,,, ampuni Kami Ya Rabb... Kami telah menjadi orang yang Tamak... Jadi kan Ramadhan Kami berkah... Amin...
    Hadir selalu di mari dengan share : MP3 Inspiratif Bag. XVIII, reviewny ditunggu Sob, Thanks... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya gan, sangat inspiratif MP3.nya. saya pernah membaca buku almarhumah menkes Endang (Berdamai dengan Kanker) dalam pengantarnya ia berkata: "sungguh lamanya hidup tidaklah sepenting kwalitas hidup itu sendiri".

      Hapus
    2. Wah... belum ada yang terbaru yah postingannya Sob???
      Ngisi Absen di sini dulu lah...:D
      Salam bLogger,

      Hapus
  9. keinginan manusia itu nda ada puasnya yang mengakibatkan jadi serakah

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksud hati ingin mendapatkan kedamaian dengan mewujudkan keinginan, namun karena ternyata keinginan tidak memiliki batas, ujungnya tumpukan masalah yang dan ketidakdamaian yang di dapat.terima kasih gan kunjungan dan komentarnya :)

      Hapus
  10. keserakahan diri hanya bisa dilawan dengan iman, menurut saya.. ketika hati tak haus akan kasih sayangNya, insya Allah akal dan naluri kita pun masih bisa jelas memilih mana yang terbaik untuk hidup kita.. :)

    BalasHapus
  11. serakah itu timbul dari kontrol emosi diri sendiri yang tidak bisa ditahan - Menurut saya sih :D

    Nice artikel sob :)

    BalasHapus
  12. postingan yg bagus, di dalam cerita ini banyak pelajaran yg harus jita sikapi, banyak hikmah di dalamnya....
    terima kasih sahabatku
    terutama atas informasinya..

    BalasHapus
  13. memang sungguh memprihatinkan kondisi kita saat ini.. seandainya kita tidak serakah, maka penjara akan kosong.. :)

    BalasHapus
  14. terdengar begitu memprihatinkan ya dampak dari rasa nafsu manusia itu

    BalasHapus
  15. byk yg boleh aku renungkan dlm entri ini..mekasih atas perkongsian yg cukup bererti~

    ouh ya,mekasih kunjungi blog aku~ =)

    Salam kenal~

    BalasHapus
  16. super sekali postingannya sangat bermanfaat,
    sayang kalau tidak membaca semuanya..
    aku suka bahasa "Ibarat air yang mampu mencapai samudera dengan kelenturan dan kelembutan, kita hanya akan tersenyum diperjalanan ini sambil berbagi hingga sampai tujuan"
    I like it..
    terima kasih yah.. :)

    BalasHapus
  17. postingan yang sangat bagus kawan ..
    kelebihan finansial terkadanglah dapat membuat kita mengarah ke hal yang negatif,,
    oleh karena itu bentengi diri kita dengan iman dan taqwa serta pengaruh lingkungan yang baik ^ ^

    BalasHapus
  18. masaallah , semngat dakwahnya ya sob

    BalasHapus
  19. Banyak sekali yang bisa saya 'ambil' dari tulisan ini. Keinginan memang tiada batas. Kebahagiaan yang sebenarnya bukanlah dari pemenuhan segala keinginan tetapi hendaklah pada pencapaian kedamaian dan ketenangan hati...

    Terima kasih untuk kunjungan dan komennya :)

    BalasHapus
  20. "Serakah" Hmm...., mengingatkan kita kita semua

    BalasHapus
  21. alhamdulillah, tadzkiroh :)

    BalasHapus
  22. Memang begitulah manusia. Tapi semua itu dan pemberian itu tergantung oleh Yang Maha Pemberi, pasrah saja dengan hasil yang kita lakukan dan puas dengan hasilnya. Kalaupun berlebih berbagilah dengan sekitar. Yang tidak puas itu adalah orang yang tak mau berbagi =)

    BalasHapus
  23. kunjungan perdana sob....
    heheh coba gk ada yg serakah, mungkin kruptorpun jg gk ada...

    BalasHapus
  24. Silaturahim ke sini lagi sahabatku, untuk mempererat silaturahmi
    selamat menjalankan ibadah puasa di bulan ramadlon
    Terima kasih

    BalasHapus
  25. kembali lagi kesini sahabatku
    yah..untuk terapi qalbu nih.....
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih juga pak :)...salam sukses.

      Hapus
  26. Senang sekali silaturahmi di sini sobat..
    disini rasanya saya benar^ sedang diterapi utk qalbu
    terima kasih sobat

    BalasHapus
  27. hadir lagi di sini sahabatku
    salam amadlon

    BalasHapus
  28. postingan yang menarik dan memberi pelajaran bagi pembaca..
    I like it..
    salam sukses sahabatku.. :)

    BalasHapus
  29. hadir lagi sobat.. ^_^..
    slam super yah.. ^_^

    BalasHapus
  30. Hadir kembali untuk menjalin tali silahturhami.....

    BalasHapus
  31. Serem melihat anak2 muda kini terjerumus dalam narkoba...

    BalasHapus
  32. tenang dan bahagia ada pd jiwa yg bersyukur

    BalasHapus
  33. semuanya kembali pada diri sendiri. .

    BalasHapus