Selasa, 01 November 2011

Berlayar bersama Kehidupan


Saya teringat ketika melakukan perjalanan menuju sebuah telaga di kota Magetan. Jalannya naik turun, banyak tikungan tajam bertepi jurang.

Mirip dengan analogi perjalanan tadi, hidup juga di warnai dengan naik dan turun. Ada saatnya harus berjalan pelan-pelan karena sedang berpapasan dengan kendaraan besar, ada saatnya kita meluncur turun yakni ketika mengalami situasi tanpa mengeluarkan tenaga yang berlebih, saat naik kita harus menekan pedal gas mobil untuk mendapatkan tenaga agar bisa sampai di atas.

Dalam sebuah percakapan di angkringan Jogja, seorang kawan bertanya; “Apa yang bisa membuat hidup kita berjalan mulus tanpa hambatan?”

Hidup yang terasa tidak mulus atau banyak hambatan dikarenakan kita tidak harmonis dengan kehidupan, kita tidak berlayar bersama hidup itu sendiri.

Coba kita bayangkan, saat mengendarai mobil lalu bertemu tikungan, tetapi kita “ngeyel”melaju dengan kecepatan tinggi ,apa bisa berkendara dnga gaya seperti itu? Bisa, tapi selamat? Belum tentu. Kita bisa terjatuh, menabrak pembatas jalan , lalu akan terguling.

Kita ingin cepat-cepat kaya, cepat-cepat berhasil, cepat-cepat terkenal dll, tapi karena kita menolak menyetujui prosedur yang di berikan oleh hidup, maka muncullah hambatan dan masalah. Hidup akhirnya dipenuhi dengan perjuangan yang tiada habis yang penyebabnya karena kita tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan kehidupan.

Meminjam pernyataan Stuart Wilde dalam bukunya yang menyegarkan The Whispering Winds of Change; “Jangan pernah tergesa-gesa. Berjalanlah perlahan-lahan, berbicaralah yang jelas. Jangan pernah emosional dan jangan biarkan orang memanipulasimu....”, sangat dalam, itulah kesan terpancar saat membaca pernyataan Stuart Wilde tersebut. Bagaimana tidak, dalam hidup yang menuntut kita serba cepat dan di penuhi persaingan, kita harus berjalan pelan-pelan dan diminta menikmati hidup. Tapi itulah ironi kehidupan.

Saat kita penuh dengan ketergesaan, terburu-buru, seakan-akan hidup semakin meminta kita untuk terus berlari dan berlari. segala sesuatunya akan penuh kekurangan serta kesulitan. Namun saat kita jalan melambat dan menikmati hidup, ternyata hidup juga seakan-akan ikut melambat, segala sesuatunya terpenuhi dengan mudah dan indah.

Sungguh indah bisa berlayar bersama hidup, kita seperti penumpang kapal yang sangat besar nan mewah mirip Titanic, sementara kehidupan adalah nahkoda sekaligus kapalnya. Sementara kita sedang naik kapal, kita juga menikmati pemandangan laut yang luas, indah dan agung , di iringi alunan musik yang lembut dan mengalun. Indah indah dan indah yang selalu bergumam di hati setiap saat perjalanan ini.

Seorang sahabat bisa merasakan betapa indahnya dan penuh bahagia saat berlayar bersama kehidupan, saat dia membantu mencuci piring isterinya , bekerja menyebarkan brosur sampai memasang spanduk. Dia tersenyum menikmati, seperti analogi perjalanan tadi, di saat jalan turun kita tidak perlu mengeluarkan tenaga berlebih, itulah harmoni kehidupan yang jauh dari beban, keluh kesah, dan kekhawatiran.

Dalam suatu sesi konsultasi di Terapi Qolbu, seorang pengacara yang memiliki kehidupan mapan berkata “Sungguh indah bekerja tanpa ada perasaan tertahan, dan melawan. Seperti menyatu dengan diri sendiri yaitu hidup. Itulah yang saya lakukan di setiap hari”. sejuk sejuk dan dingin saat mendengarnya.

Mengutip pernyataan dari Kahlil Gibran yang termashur; "If you cannot work with love but only with distaste, it is better that you should leave your work". berlayar bersama kehidupan yang terasa hanya sejuk, indah dan indah karena memang yang terpancar kesekeliling hanyalah Cinta dan Cinta.

12 komentar:

  1. bekerja apapun dgn prinsip spt diatas memang sangat bermanfaat, tq 4 share

    BalasHapus
  2. kutipannya Khalil Gibran keren banget ya

    BalasHapus
  3. Kehidupan mengalir seperti air mengalir, mengikuti alur yang sudah ditetapkan, berlayar mengarungi kehidupan suatu keharusan dan itu sebuah pilihan.

    BalasHapus
  4. “Jangan pernah tergesa-gesa. Berjalanlah perlahan-lahan, berbicaralah yang jelas. Jangan pernah emosional dan jangan biarkan orang memanipulasimu....”

    hmmm...jazakumullohukhoiron telah di share

    BalasHapus
  5. kalau hidup mau cepat-cepat maka tetap harus hati-hati serta mengikuti peraturan

    para pembalap saja walau sudah hati-hati dan mengikuti aturan keselamatan tetap bisa celaka

    apalagi yang tidak mengikuti peraturan

    BalasHapus
  6. Bener juga, ketergesaan tak akan memberi peluang kepada kita utk menikmati indahnya hidup ini. Ujung dari ketergesaan adalah penyesalan karena begitu banyak yang telah terlewatkan dan begitu banyak waktu yg disia-siakan.

    BalasHapus
  7. terima kasih info terapinya semoga lancar, hidup bisa nikmat jika menyadari qada' dan qadar Allah

    BalasHapus
  8. berkunjung sob..sukses selalu yah..:)
    salam kenal aje..

    BalasHapus
  9. adem sekali mampir disini
    kemarin2 saya gabisa komen.. :)

    BalasHapus
  10. mengena banget ni bacaannya,,

    BalasHapus
  11. hmmnnnm......
    sangat indah......

    BalasHapus