Kamis, 09 Februari 2012

Ingin kaya, ingin bahagia



Memburu, berlari dan berkejaran, sebelum terwujud tidak akan pernah menyerah, itulah lagu saat keinginan didudukkan sebagai raja.

Raja dengan perintah-perintahnya, dan sabdanya memerintah kita untuk melakukan, menjadi dan memiliki ini dan itu. Dasar tujuannya hanya satu agar bahagia. Meski harus membayar mahal yakni tidak ada ruang untuk sejenak menikmati dan istirahat.

Capailah cita-citamu setinggi-tingginya, kalau perlu setinggi langit, masih terngiang pesan orang tua di masa kecil dulu. Namun sepertinya tinggi langit tidak memiliki ukuran dan batas, jadinya tetap tidak pernah kesampaian (baca: tidak pernah terpuaskan).

Tidak ada yang salah dengan semua itu. Namun coba perhatikan yang berikut: “Saat kemarau datang , menginginkan hujan segera datang adalah hal yang sangat sulit, jika kita terus memaksa bukankah hanya derita yang akan didapat”.

Rasa terburu, tergesa, kebanyakan di dorong oleh keinginan untuk di anggap lebih; lebih pintar, lebih baik, lebih cerdas, menjadi nomor 1 dan lebih-lebih yang lain. Padahal Rumput tidak lebih buruk atau lebih baik dari pohon bambu yang lebih tinggi, naik sepeda onthel tidak lebih rendah atau lebih tinggi di banding menyetir mobil.

Bagi yang rajin ke tempat ibadah dianggap lebih baik dari pada yang hanya berdoa di rumah, padahal di semua tempat adalah tempat ibadah, termasuk di pasar, di jalan raya, dan ini menutup realita bahwa justru tempat ibadah yang sesungguhnya adalah aktifitas keseharian.

Seorang kawan tertarik untuk melihat lebih dalam lagi, ajukan pertanyaan pada diri kita sendiri, katanya: “berapa lama saya bahagia saat memiliki mobil baru?, berapa lama saya bahagia saat memiliki sepeda onthel baru?, saya percaya keduanya hanya memiliki bahagia yang sebentar.

Hal ini sebuah sinyal dengan menjadikan hal-hal di luar sebagai sumber kebahagiaan tidak akan bertahan lama, tidak ada yang bisa membahagiakan hal-hal di luar diri. Ini mirip dengan apa yang di rasakan mendalam oleh Guru yang terkenal:

“Bertahun-tahun ku ketuk pintu itu, lama tidak di buka. Saat terbuka, ternyata aku mengetuknya dari dalam”.

Menginginkan bahagia dengan mewujudkan impian seperti berupaya mencengkeram pikiran senang saat impian terwujud dan menolak pikiran sedih saat semua harus pergi dan hilang. Ini seperti kita memaksa langit hanya berawan putih dan menolak awan hitam datang, dan awan putih di larang pergi.

Keinginan untuk kaya, patut kita hargai karena semua memang sedang menuju cahaya, namun seperti realita yang ada, bukannya bahagia yang didapat melainkan keluhan keluhan dan keluhan yang menghiasi sehari-hari. akhirnya lagu yang selalu kita nyanyikan menjadi ingin kaya lupa bahagia.

Ini bisa kita perhatikan di kehidupan sehari-hari, saat sebelum menikah selalu terbayang betapa indahnya berdua dengan isteri/suami, setelah menikah setiap hari pertengkaran yang di dapat.

Impian ingin menjadi pilot mungkin keinginan banyak kawan...beberapa hari yang lalu, ada yang mengejutkan BNN menangkap pilot sedang pesta sabu di hotel tepat sebelum menerbangkan pesawat.

Oleh karena itu saran dari seorang Guru patut di renungkan agar kita bisa kaya bahagia, bukan menjadikan keinginan sebagai raja melainkan sebagai pembantu kita. Saat bangun tidur kita tersenyum karena kita sudah percaya semua terselesaikan dan terpenuhi karena ada pembantu.

Pandangan jadi tersembuhkan dan berubah menjadi seperti langit yang tinggi sementara hati kita serendah bumi yang kita pijak. Awan putih dan hitam tetap menghiasi langit namun warna langit tetap biru. Gagal dan berhasil tetap menghiasi hidup kita, namun kita selalu tersenyum dan tersenyum.

Sepeda onthel ataupun mobil yang kita kendarai tidak pernah mempengaruhi hati kita untuk bisa tersenyum atau tidak, karena tersenyum sudah menjadi kealamian. menjadikan hati seperti bumi apapun yang di lemparkan (pujian, cacian makian) diolahnya menjadi bunga dan buah kasih dan cinta.

17 komentar:

  1. sejuk sekali penjabaran anda sobat, memang kita harus banyak belajar bersabar dan tersenyum, karena senyum itu ibadah kan, terima kasih atas tulisan yg bermanfaat ini :D

    BalasHapus
  2. tentu semua orang berharap kaya dan bahagia,dan slalu bersyukur atas rezky dariNya,...nice share...:)

    BalasHapus
  3. bener sobat, ini merupakan motivasi yang berguna.

    Kalo bisa kita saling tukar motivasi aja.

    BalasHapus
  4. manteb motivasinya.. semoga saya bisa selalu mensyukuri hidup.. :D

    BalasHapus
  5. 1 lagi; Berbagi, jika ingin kaya n bahagia :D

    salam kenal :)

    BalasHapus
  6. kesabaran itu adalah kekayaan yang sebenarnya dalam hidup.

    BalasHapus
  7. ya, kebahagiaan itu relatif bagi setiap orang .. tapi kebanyakan orang tidak pernah puas untuk mencapai kebahagiaan itu ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhhh masa si mod...??? ato jgn2 km yang lebay hehehehe piss

      Hapus
  8. Ingin kaya? Ingin Bahagia? harus giat bekerja.

    BalasHapus
  9. bahagia dunia akhirat itu yang mantap....

    salam blogwalking

    BalasHapus
  10. lama gak singgah di sini :) dah makin keren aja blognya sobat-q yang satu ini...

    BalasHapus
  11. Bahagia bersumber dari hati, ya....

    BalasHapus
  12. Wah...ternyata ini blognya penulis buku motivasi ya?
    keren sekali...
    Bener kok mas, bahagia itu sebenernya dari diri sendiri..

    BalasHapus
  13. Terimakasih pencerahannya.. :-)

    BalasHapus
  14. pencerahan yg bagus,...
    jadilah orang kaya yang bahagia.....

    BalasHapus
  15. Semoga kita semua menjadi orang kaya yang baik, dermawan & bermanfaat bagi banyak orang

    BalasHapus